Jumat, 08 April 2011

KONSEP PENDIDIKAN MENURUT AL-GHAZALI


KONSEP PENDIDIKAN MENURUT AL-GHAZALI

By: Tu'nas Fuaidah
A.    Latar Belakang
Al-Ghazali adalah ahli pikir ulung yang riwayat hidup dan pendapat-pendapatnya telah banyak diungkap dan di kaji oleh para pengarang baik dalam bahasa Arab, Inggris, maupun bahasa dunia lainnya termasuk bahasa Indonesia. Hal itu sudah selayaknya bagi para pemikir generasi sesudahnya, karena dengan mengkaji hasil pemikiran orang-oarang terdahululahdapat ditemukan dan dikembangkan pemikiran-pemkiran baru.
Kalau kita telaah karya-karya al-Ghazali, terutama karya terbesarnya Ihya Ulumuddin, tampaklah bahwa disamping sebagai teolog, filosuf, kritikus, sufi, beliau juga ahli pendidikan.
Melihat kenyataan yang ada, pendidikan belakangan ini terasa kurang mengarah kepada pembentukan insan kamil. Pendidikan kurang menekankan adanya keseimbangan aspek spiritual dengan itelektual, antara kebenaran dan kegunaan dalam diri manusia itu sendiri. Tapi, al-Ghazali berusaha menyelesaikan masalah pendidikan seperti yang dilukiskan diatas dengna menseimbangkan antara aspek spiritual dengan intelektual, kebenaran dan kegunaan. Itulah yang melatar belakangi penulis untuk menampilkan konsep pendidikan al-Ghazali.

B.     Tujuan Pembahasan
Tujuan penbahasan dalam makalah kali ini adalah:
1.      Untuk mengetahui dan menjelaskan riwayat singkat seluk beluk kehidupan al-Ghazali.
2.      Untuk Mengetahui bagaimana konsep-konsep pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan.
C.    Riwayat Singkat Hidup al-Ghazali
Imam al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Ia lahir pada tahun 450 H. bertepatan dengan 1059 M. di Ghazaleh, suatu kota kecil yang terletak di Tus, wilayah Khurasan dan wafat di Tabristan wilayah propinsi Tus pada tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 505 H. bertepatan dengan 1 Desember 1111 M.
Al-Ghazali memulai pendidikannya di wilayah kelahirannya dengan mempelajari dasar-dasar pengetahuan. Selanjutnya ia pergi ke Nisyafur, dan Khurasan yang pada waktu itu dikenal sebagai pusat pengetahuan  terpenting di dunia Islam. Dan al-Ghazali berguru pada imam al-Haramain Abi al-Ma’ali al-Juwainy, yang bermadzab syafi’i.
Diantara mata pelajaran yang dipelajari al-Ghazali di kota tersebut adalah teologi, hukum Islam, falsafat, logika sufisme dan ilmu-ilmu alam yang kemudian mempengaruhi sikap dan pandangan ilmiahnya. Hal ini terlihat antara lain dari karya tulisannya yang dibuat dalam berbagai bidang-bidang ilmupengetahuan. Dalam ilmu kalam, misalnya buku yang bberjudul, Ghayah al-Maram fi Ilm al-Kalam; dalam bidang tasawuf menulis buku Ihya Ulum al-Din; dalam ilmu hukum Islam menulis kitab al-Musytasyfa’ dan masih banyak lagi.
Karena demikian tidaklah mengherankan jika kemudian ia mendapat berbagai macam gelar yang mengharumkan namanya, seperti gelar Hujjatul Islam, Syaikh al Suffiyin dan Imam al-Murabin.

D.    Pemikiran al-Ghazali tentang Pendidikan
Secara sistematis pemikiran al-Ghazali memiliki corak tersendiri. Ia secara jelas dan tuntas mengungkapkan pendidikan sebagai suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen. Totalitas pandangannya meliputi hakekat tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik, materi, kurikulum, dan metode pendidikan.
1.      Tujuan Pendidikan
            Menurut al-Ghazali, pendidikan dalam prosesnya haruslah mengarah pada pendekatan diri kepada Allah dan mengarahkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu bahagia dunia dan ahirat.
            Menurut al-Ghazali, pendekatan diri kepada Allah merupakan tujuan pendidikan. Orang dapat mendekatkan diri kepada Allah hanya setelah memperoleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu sendiri tidak akan dapat diperoleh manusia kecuali melalui pengajaran. Dari kata-kata tersebut dapat dipahami bahwa menurut al-Ghazali tujuan dapat dibagi menjadi dua :
a.       Tujuan jangka panjang
Tujuan pendidikan jangka panjang ialah pendekatan diri kepada Allah. Pendidikan dalam prosesnya harus mengarahkan manusia menuju pengenalan dan kemudian pendekatan diri kepada Allah SWT. Dengan melaksanakan ibadah wajib dan ibadah manusia sehingga manusia harus senantiasa mengkaji ilmu-ilmu fardhu ain.
b.      Tujuan jangka pendek
Menurut al-Ghazali, tujuan jangka pendek ialah diraihnya profesi manusia sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Syarat untuk mencapai tujuan itu, manusia mengembangkan ilmu pengetahuan, baik yang termasuk fardhu ain maupun fardhu kifayah.
            Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan bahwa tujuan pendidikan menurut al-Ghazali adalah sebagai berikut:
1)      Mendekatkan diri kapada Allah, yang wujudnya adalah kemampuan dengan kesadaran diri melaksanakan ibadah wajib dan sunnah.
2)      Menggali dan mengembangkan potensi atau fitrah manusia.
3)      Mewujudkan profesionalisasi manusia untuk mengemban tugas keduaniaan dengan sebaik-baiknya.
4)      Membentuk manusia yang berakhlak mulia, suci jiwanya dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela.
2.      Pendidik
            Menurut al-Ghazali pendidik adalah orang yang berusaha membimbing, meningkatkan, menyempurnakan, dan mensucikan hati sehingga menjadi dekatdeengan khaliqnya. Oleh karena itu, tampaklah bahwa secara umum guru bertugas dan bertanggung jawab seperti Rasul, yaitu mengantarkan murid dan menjadikannya manusia terdidik yang mampu menjalankan tugas-tugas kemanusiaan dan tugas-tugas ketuhanan. Ia tidak sekedar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga bertanggung jawab pula memberikan wawasan kepada murid agar menjadi manusia yang mampu mengkaji keterbelakangan, menggali ilmu pengetahuan dan menciptakan lingkungna yang menarik dan menyenangkan.
            Sejalan dengan pentingnya pendidikan mencapai tujuan sebagaimana disebutkan diatas, al-Ghazali juga menjelaskan tentang ciri-ciri pendidik yang boleh melaksanakan pendidikan. Ciri-ciri tersebut adalah:
a.       Guru harus mencintai muridnya seperti mencintai anak kandungnay sendiri.
b.      Guru jangan mengharapkan materi (upah) sebagai tujuan utama dari mengajar.
c.       Guru harus mengingatkan muridnya agar tujuannya dalam menuntut ilmu bukan untuk kebanggaan diri atau untuk mencari keuntungan pribadi, tetapi untuk mendekatkan diri kepada Allah.
d.      Guru harus mendorong muridnya agar mencari lmu yang bermanfaat
e.       Guru harus mengajarkan pelajaran yang sesuai dengan intelektual dan daya tangkap anak didiknya.
f.       Guru harus dapat menanamkan keimanan kedalam pribadi anak didiknya, sehingga akal pikiran anak didik tersebut  akan dijiwai oleh keimanan itu, dan lain-lain.
3.      Murid
            Al-Ghazali amat menekankan tentang pentingnya mutu moral dan etika murid. Ia mengharapkan kepada para pelajar agar membersihkan dirinya dari perilaku yang rendah dan perbuatan jahat. Karena pengetahuan adalah merupakan ibadah hati dan bersifat ilahiyah, dan ilmu itu baru dapat masuk kedalam diri anak yang memiliki hati yang bersih.
            Sejalan dengan prinsip bahwa menuntut ilmu pengetahuan itu sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah, maka bagi murid dikehendaki sebagai hal-hal berikut:
a.       Memuliakan guru dan bersifat rendah hati.
b.      Merasa satu bangunan dengan murid lainnya merupakan satu bangunan yang saling menyayangi dan menolong serta berkasih sayang.
c.       Menjauhkan diri dari mempelajari berbagai madzhab yang dapat menimbulkan kesesatan.
d.      Mempelajari tidak hanya satu jenis yang tidak bermanfaat saja, melainkan mempelajari berbagai ilmu.
            Ciri-ciri murid tersebut nampak juga masih dilihat dari prespektif tasawuf. Ciri-ciri tersebut untuk masa sekarang tentu masih perlu ditambah dengan ciri-ciri yang lebih membawa kepada kreatifitas dan kegairahan dalam belajar.


4.      Kurikulum
            Mengurai kurikulum pendidikan menurut al-Ghazali, ada dua. Pertama, pengklasifikasiannya terhadap ilmu pengetahuan dan kedua, pemikirannya tentang manusia berikut potensi yang dibawanya sejak lahir.
            Ketika membahas ilmu, al-Ghazali secara terperinci menggunakan tiga pendekatan :
a.       Secara epistemologis
Ilmu terbagi menjadi dua : syar’iyah dan aqliyah. Ilmu syar’iyah ialah ilmu yang diperoleh para Nabi. Ilmu ini terdiri dari empat kelompok :
1)      Ilmu ushul, meliputi : Kitabullah, Sunnah Rasul, Ijma’ umat dan peninggalan para sahabat.
2)      Ilmu furu’, melputi : ilmu yang menyangkutvkepentingan ahirat dan kepentingan duniawi.
3)      Ilmu muqoddimah, yaitu ilmu yang merupakan alat, seperti bahasa dan tata bahasa Arab.
4)      Ilmu penyempurna, yakni semua ilmu yang berkenaan dengan al-Qur’an.
Adapun ilmu aqliyah adalah yang bersumber dari akal baik yang diperoleh secara dhoruri maupun ikhtisabi.
b.      Secara ontologis
Al-Ghazali membagi ilmu menjadi dua macam :
1)      Ilmu fardhu ain, yakni ilmu yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas akhirat dengan baik. Ilmu ini terdiri atas : ilmu tauhid, ilmu syari’at dan ilmu sirri.
2)      Ilmu fardhu kifayah, yakni ilmu-ilmu yang berkaitan dengan urusan keduniaan, yang perlu diketahui manusia. Ilmu yang termasuk jenis fardhu kifayah ialah, setiap ilmu yang dibutuhkan demi tegaknya urusan keduniaan seperti ilmu kedokteran dan aritmatik.
c.       Secara aksiologis
Selanjutnya al-Ghazali menggunakan pendekatan aksiologis dalam menilai.
1)      Ilmu yang tercela, banyak atau sedikit. Ilmu ini tidak ada manfaatnya bagi manusia di dunia maupun diakhirat. Misalnya ilmu sihir, nujum dan ilmu pedukunan. Bila ilmu ini dipelajari akan membawa madharat dan meragukan terhadap kebenaran adanya Tuhan oleh karena itu ilmu ini harus dijauhi.
2)      Ilmu yang terpuji, banyak atau sedikit. Misalnya ilmu tauhid dan ilmu agama. Ilmu ini bila dipelajari akan membawa seseorang kepada jiwa yang suci bersih serta dapat mendekatkan kepada Allah.
3)      Ilmu yang terpuji pada taraf tertentu, yang tidak boleh diperdalam, karena ilmu ini dapat membawa kepada kegoncangan iman, seperti ilmu filsafat.
Al-Ghazali mendasarkan pemikirannya bahwa kurikulum pendidikan harus disusun dan selanjutnya disampaikan kepada murid sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan psikisnya. Pentahapan dalam kurikulum yang dirumuskan al-Ghazali ini sesuai dengan proses pendidikan anak yang diajarkan oleh Nabi SAW.
a.       Usia 00-06 th. adalah masa asuhan orang tua.
b.      Usia 06-09 th. Adalah masa dimulainya pendidikan anak secara formal.
c.       Usia 09-13 th. Adalah masa pendidikan kesusilaan dan latihan kemandirian.
d.      Usia 13-16 th. Adalah masa evaluasi terhadap pendidikan yang telah berjalan sejak pembiasaan, dimulainya pendidikan formal, pendidikan kesusilaan dan pendidikan latihan kemandirian.
e.       Usia 16 th. Dan seterusnya , adalah pendidikan kedewasaan.

5.      Metode Pengajaran
            Al-Ghazali amat menekankan terhadap pentingnya persiapan bahan pengajaran oleh guru. Ia juga menekankan bahwa para guru harus mengamalkan ajaran-ajaran yang dijarkannya. Point lainnya yang berkenaan dengan pentingnya seorang guru agar menarik perhatian dalam mengembangkan dan mengajarkan pelajaran dengan cara bekerja sama dengan dengan para siswa yang dengan cara demikian, para guru telah memberikan fasilitas dan kesempatan kepada para siswa untuk memahami bahan pelajaran yang diajarakan.
            Al-Ghazali selanjutnya mengingatkan para guru agar menghindari penyajian bahan pelajaran yang rumit dan sulit terhadap para siswa permulaan, dan meminta para guru agar memulai pelajaran dari yang paling mudah dan sederhana menuju kemata pelajaran yang sukar dan kompleks.
            Al-Ghazali selanjutnya mengingatkan para guru supaya memperhatikan tingkat daya pikiran anak, menerangkan pelajaran dengan cara yang sejelas-jelasnya, dan mengajarkan ilmu pengetahuan dengan cara berangsur-angsur.
E.     Analisis Wacana Tentang Pemikiran al-Ghazali dalam Dunia Pendidikan dengan Dunia Pendidikan Dewasa Ini
Patut dibenamkan apa yang dikatakan Ismail Rafi al-Faruqi bahwa inti masalah yang dihadapi umat Islam dewasa ini adalah masalah pendidikan, dan tugas terberatnya adalah memecahkan masalah tersebut.
Hal ini dapat dipahami dari satui segi tujuan diciptakannya manusia ialah manusia berpotensi untuk menjadi khalifah fi al-ardi. Potensi tersebut akan bermanfaat hanya jika digali melalui pendidikan karena itulah pendidikan merupakan usaha penggalian dan pengemangan fitrah manusia.
Akan tetapi, munculnya filsafat pragmatisme yang mendapat inspirasi dari John Dewey, telah mengubah arah orientasi pendidikan. Filsafat pragmatisme telah mengabaikan konsep-konsep kebenaran dan menggantinya dengan kegunaan, dan pengaruh itu berjalan terus, akhirnya terwujudlah manusia-manusia yang menghancurkan konsep keagungan dan kemuliaan diri manusia itu sendiri. Penggantian konsep tersebut mengharuskan kita untuk mengubah sistem pendidikan yang ada sekarang, yang menyangkut dasar, tujuan, materi, kualifikasi, sistem evaluasi pendidikan dan lain-lain sehingga tercapai tujuan yang diharapkan.
Tidak ada jalan lain untuk mengatasi dunia pendidikan semacam itu kecuali kembali kepada dan menerapkan sistem pendidikan yang memperhatikan fitrah manusia secara utuh, yakni sistem pendidikan Islam.
Selanjutnya, terhadap tantangan-tantangn yang sedang dihadapi dunia pendidikan dewasa ini, ternyata konsep pendidikan al-Ghazali mampu menjawabnya. Bukti kongkritnya adalah Ihya’.
Tampilnya pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan dalam dunia pendidikan dewasa ini adalah karena aktualitas konsepnya, keje;lasan orientasi sistemnya, dan secara umum karena pemikirannya yang sesuai dengan sosio kultural. Penampilannya dalam dunia pendidikan merupakanb usaha pengubahan eksistensi muslim yang saat ini telah rusak hubungannya dengan sejarah masa lampaunya. Juga, sumbangsihnya terhadap pendidikan Islam untuk mempelajari warisan para leluhurnya yang telah dihalangi oleh barat.

Kesimpulan

Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa disamping sebagai teolog, filosuf, kritikus, sufi, beliau juga ahli pendidikan, oleh karena itu pemikiran-pemikirannya tentang pendidikan dapat dikembangkan dan dimanfaatkan.
Sejak kecil beliau sudah belajar berbagai macam ilmu pengetahuan. Secara sistematis pemikiran al-Ghazali memiliki corak tersendiri. Ia secara jelas dan tuntas mengungkapkan pendidikan sebagai suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen. Totalitas pandangannya meliputi:
1.      Hakekat tujuan pendidikan
Menurutnya, pendidikan dalam prosesnya haruslah mengarah pada pendekatan diri kepada Allah dan mengarahkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu bahagia dunia dan ahirat.
2.      pendidik
Menurut al-Ghazali pendidik adalah orang yang berusaha membimbing, meningkatkan, menyempurnakan, dan mensucikan hati sehingga menjadi dekat dengan khaliqnya.
3.      peserta didik
Al-Ghazali amat menekankan tentang pentingnya mutu moral dan etika murid. Ia mengharapkan kepada para pelajar agar membersihkan dirinya dari perilaku yang rendah dan perbuatan jahat.
4.      kurikulum
Mengurai kurikulum pendidikan menurut al-Ghazali, ada dua. Pertama, pengklasifikasiannya terhadap ilmu pengetahuan dan kedua, pemikirannya tentang manusia berikut potensi yang dibawanya sejak lahir.
5.      metode pendidikan.
Al-Ghazali amat menekankan terhadap pentingnya persiapan bahan pengajaran oleh guru. Pentingnya seorang guru agar menarik perhatian dalam mengembangkan dan mengajarkan pelajaran. Menghindari penyajian bahan pelajaran yang rumit dan sulit terhadap para siswa permulaan.
Daftar Pustaka

Alavi, Zianuddin, Pemikiran Pendidikan Islam Pada Abad Klasik dan Pertengahan, Bandung: Angkasa. 2003

Al-Rasyidin dan H. samsul Nizar Filasat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, Praktis, Jakarta: Ciputat Press. 2005

Ibn Rusn, Abidin, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1998

Nata, Abudin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.1997

Zianuddin dkk., Seluk Beluk Pendidikan al-Ghazali, Jakarta: Bumi aksara. 1991




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

trimakasih atas kunjungan dan komentar anda!!!